Hidup Ini Indah (Part 2): 1 in 2, Rekanku
Senang rasanya punya feeling yang berbeda dibanding feeling orang lain.Ketika kita punya teman yang penampilannya, pakaiannya, dan semua yang mereka pakai sama, pasti kita kira mereka saudara atau sahabat sehati sejiwa yang berteman dari kecil bahkan dari bayi. Tapi temanku ini, mereka adalah anak kembar yang keluar dari rahim ibunya pada tanggal 17 Maret 2000, mereka hanya berbeda beberapa menit saat dilahirkan.
Sebetulnya dari kami duduk di kelas 1 SD sampai kelas 3 SD kami sudah mengenal satu sama lain, di gereja maupun di sekolah. Ketika kami di gereja kami akrab sekali, tapi kalau sudah di sekolah kami kurang dekat karena perbedaan kelas. Barulah ketika kelas 4 SD kami berada di dalam satu kelas, dan kami mulai dekat dan akhirnya bersahabat.
Dulu, sahabat kembarku ini dapat dibedakan lewat tai lalat milik adiknya, sampai pada akhirnya kelas 6 SD dia mengoperasi tai lalatnya karena tai lalatnya yang tumbuh dan bahaya. Karena dioperasinya tai lalat itu tidak ada lagi pembeda antara mereka berdua.
Kepribadian mereka terlihat berbeda sekali. Kakaknya cewek sekali, tapi adiknya suka sekali dengan ben 10. Kakaknya suka sekali berfoto, tapi adiknya tidak sama sekali suka berfoto. Walaupun banyak guru yang mengeluh dan bilang bahwa mereka tidak bisa membedakan mereka berdua, tapi aku dan "Anak Einstein" bisa membedakan mereka dengan baik. Mereka punya rasa yang sama, ketika salah satu dari mereka nangis atau ada masalah, yang satu lagi akan ikut menangis. Merekapunya telepati yang kuat.
Senang rasanya bisa bersahabat dengan si kembar ini. Tapi sebentar lagi kami akan berpisah, aku dan "Anak Einstein" akan tetap dalam satu sekolah, tapi si kembar ini akan pergi melanjukan studinya di Salatiga. Sehingga saat - saat ini kami mencoba untuk saling bertemu. Dan mencari cinderamata yang bisa selalu kami ingat sampai nanti kita berjumpa lagi.
Sebetulnya dari kami duduk di kelas 1 SD sampai kelas 3 SD kami sudah mengenal satu sama lain, di gereja maupun di sekolah. Ketika kami di gereja kami akrab sekali, tapi kalau sudah di sekolah kami kurang dekat karena perbedaan kelas. Barulah ketika kelas 4 SD kami berada di dalam satu kelas, dan kami mulai dekat dan akhirnya bersahabat.
Dulu, sahabat kembarku ini dapat dibedakan lewat tai lalat milik adiknya, sampai pada akhirnya kelas 6 SD dia mengoperasi tai lalatnya karena tai lalatnya yang tumbuh dan bahaya. Karena dioperasinya tai lalat itu tidak ada lagi pembeda antara mereka berdua.
Kepribadian mereka terlihat berbeda sekali. Kakaknya cewek sekali, tapi adiknya suka sekali dengan ben 10. Kakaknya suka sekali berfoto, tapi adiknya tidak sama sekali suka berfoto. Walaupun banyak guru yang mengeluh dan bilang bahwa mereka tidak bisa membedakan mereka berdua, tapi aku dan "Anak Einstein" bisa membedakan mereka dengan baik. Mereka punya rasa yang sama, ketika salah satu dari mereka nangis atau ada masalah, yang satu lagi akan ikut menangis. Merekapunya telepati yang kuat.
Senang rasanya bisa bersahabat dengan si kembar ini. Tapi sebentar lagi kami akan berpisah, aku dan "Anak Einstein" akan tetap dalam satu sekolah, tapi si kembar ini akan pergi melanjukan studinya di Salatiga. Sehingga saat - saat ini kami mencoba untuk saling bertemu. Dan mencari cinderamata yang bisa selalu kami ingat sampai nanti kita berjumpa lagi.
Sekian dulu. Kalau diteruskan lagi lama-lama bisa mengeluarkan air mata.

Komentar
Posting Komentar