Hidup Ini Indah (Part 3): Thanks God, It Was Over

Sudah lama rasanya tidak berbagi cerita dan pengalaman di blog ini. Alasannya lumayan banyak, pertama, karena disibukkan dengan yang namanya 'UN', kedua, terlalu menikmati liburan panjang, dan akhirnya malas untuk memperbaharui blog ini.

Saat ini, aku mau berbagi cerita kehidupan tentang bagaimana perjalanan studiku yang berkobar ataupun yang menangis dari pertama kali masuk kelas 3 SMP dan akhirnya sudah akan berpindah satu step kedepan yaitu beranjak ke SMA yang katanya masa-masa paling indah dalam kehidupan remaja ini.

Kira-kira bulan 7 tahun 2014, aku dipercayakan para pengajarku untuk naik dan menimba lebih banyak dan lebih luas lagi ilmu di kelas 9C yang katanya kelas unggulan. Saat sudah ingin beranjak satu step kedepan, ada dua sisi perasaan yang menyelubungiku. Pertama, pastinya senang. Siapa yang tidak senang jika dia naik kelas dan akhirnya menjadi seorang 'Kakak Kelas Sesungguhnya' di sekolah itu. Kedua, sedih juga. Dengan alasan, kita menapaki kelas 3 SMP dimana hanya tinggal 1 tahun kurang aku dan teman sekelasku bisa menghabiskan waktu bersama lagi.

Ketika kegiatan belajar mengajar sudah berjalan seperti bisasnya, aku merasa tiba-tiba sedih yang sangat mendalam. Saat sebuah pelajaran sedang berjalan, aku termenung memikirkan masa depanku, dimana aku akan melanjutkan sekolahku? Bagaimana kalau aku akhirnya masuk ke sekolah 'Negri' yang tidak menjanjikan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Mulai dari situ aku langsung bertindak merencanakannya secara matang. Ditambah lagi dengan salah satu sahabatku yang menjauh dariku setelah aku ditawari mengikuti sebuah kompetisi di sebuah sekolah 'Negri'. Semuanya menjadi pemikiran yang rumit bagiku, walaupun banyak temanku berkata bahwa santai sajalah, kenapa haus dipikirkan?

Seiring berjalannya waktu, akhirnya kami seluruh kelas 3 SMP-pun tahu bahwa UN harus kita perangi dengan hati dan pemikiran serta persiapan yang sangat amat baik. TUC demi TUC kami lewati, walaupun nilaiku naik-turun dan saat itu aku takut kalau spirit-ku ini tidak bertambah hingga akhirnya UN itu menghampiri. Di sutau TUC aku mendapati nilai terburukku. Sedih, karena di saat itu nilaiku setelah di akumulasikan tidak mencapai 30 dari 4 mata pelajaran penentu itu. Karena kejadian itu, hati dan pikiranku mulai fokus terhadap UN.

Kita semua anak kelas 3 SMP pasti merasakan, ketika minggu ini adalah waktunya Ujian Praktek dan seminggu kemudian kami akan melaksanakan TUC selnjutnya. Seperti deikejar-kejar sesuatu. Lebih parah daripada seorang pekerja yang stress karena tumpukkan kertas pekerjaan di mejanya. Apalagi dengan Final Count Down yang ditulis oleh temanku untuk memantau berapa hari lagi kami akan melaksanakan UN.

Perhitungan kami pun memang benar. Saat Final Count Down itu sampai ke angka 0, UN pun dilaksanakan. Hari pertama sampai hari keempat, aku jalani dengan penuh tanggung jawab. Setelah resah menunggu hasil UN tersebut, akhrnya 10 Juni 2015 kemarin aku mendapatkan hasil UN-ku. Aku mendapatkan hasil yang memuaskan, tetapi aku tahu bahwa hasil UN itu hanyalah kesenangan sementara, karena setelah itu kami harus lebih lagi fokus pada sekolah yang akan kami tuju.

Ya begitulah kehidupan pada masa kelas 3 SMP. Stress bertambah, mulai dari takut UN, bingung mau melanjutkan studi dimana, sampai perpisahan dengan teman sejawatku. Betul memang bahwa berbagai cerita tidak akan berakhir jika kita selalu punya kedekatan, imajinasi, serta hubungan yang sangat baik dengan cerita itu. Thanks God, it was over, tapi cerita masa SMP kita tidak akan pernah hilang dan akan selalu dikenang, walaupun nanti aku akan timpang ketika mengingat masa lalu kita yang begitu senang.

Sekian. Goodbye SMP...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jatuh | Tentang Kamu |

Tak Apa | Tentang Kamu |

Hidup Ini Indah (Part 4): Keluarga Baru